Pages

Jumat, 16 Januari 2015

SL PTT



Usahatani Padi dengan Pendekatan PTT

PEDAHULUAN
Beras merupakan bahan pangan pokok sebagian besar masyarakat indonesia. Seiring tingginya laju pertumbuhan penduduk, kebutuhan akan beras pun semakin meningkat.
Selama ini produksi padi nasional masih mengandalkan sawah irigasi, namun ke depan bila hanya mengandalkan padi sawah irigasi akan menghadapi banyak kendala. Hal tersebut disebabkan banyaknya lahan sawah irigasi subur yang beralih fungsi ke penggunaan lahan non pertanian, tingginya biaya percetakan lahan sawah baru dan berkurangnya debit air.
Salah satu strategi dalam upaya pencapaian produktivitas usahatani padi adalah penerapan inovasi teknologi yang sesuai dengan sumberdaya pertanian di suatu tempat (spesifik lokasi). Teknlogi usahatani padi spesifikasi lokasi tersebut dirakit dengan menggunakan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).

Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)
Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi merupakan suatu pendekatan inovatif dalam upaya peningkatan efesiensi usahatani padi dengan menggabungkan berbagai komponen teknologi yang saling menunjang dan memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Komponen teknologi yang diterapkan dalam PTT padi dikelompokan kedalam teknologi dasar dan pilihan.
Komponen teknologi dasar sangat dianjurkan untuk diterapkan di semua lokasi padi sawah. Penerapan komponen pilihan disesuaikan dengan kondisi, kemauan, dan kemampuan petani setempat.
Komponen teknologi dasar meliputi :
1.    Varietas Unggul baru, inbrida atau hibrida
2.    Benih bermutu dan berlabel
3.    Pemberian bahan organik melalui pengembalain jerami ke sawah atau dalam bentuk kompos atau pupuk kandang
4.    Pengaturan populasi tanaman secara optimum
5.    Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah.
6.    Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dengan pendekatan PHT (Pengendalian Hama Terpadu)


KOMPONEN TEKNOLOGI DASAR
1.    Varietas Unggul Baru

Varietas unggul baru (VUB) umumnya berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama penyakit utama, atau toleran deraan lingkungan setempat dan dan dapat juga memiliki sifat khusus tertentu. VUB dapat berupa padi inbrida seperti ciherang, dan Mekongga, atau padi inbrida seperti rokan, Hipa 3, Bernas super dan intani.

Dalam menentukan varietas mana yang akan ditanam, pertimbangkan beberapa hal sebagai berikut :

A.        Pemilihan varietas inbrida dan hibrida disesuaikan dengan kondisi setempat, dan dianjurkan yang tahan hama penyakit endemik seperti wereng coklat dan tungro, serta memenuhi permintaan pasar
B.        VUB yang sesuai dengan kondisi setempat, dapat diperoleh dari hasil uji varietas di lahan SL-PTT atau lahan BPP yang diamati bersama oleh penyuluh dan petani. Selain daya hasil tinggi, dan ketahan terhadap hama penyakit, aspek cita rasa nasi, umur panen, bentuk gabah, rendomen, dan kebeningan beras juga sering menjadi faktor penentu dalam pemilihan varietas oleh petani
C.        Hindari penanaman varietas yang sama secara terus-menerus di satu lokasi untuk mengurangi serangan hama penyakit.

2.    Benih Bermutu dan Berlabel

Benih bermutu adalah benih dengan tingkat kemurnian dan daya tumbuh yang tinggi, berukuran penuh dengan seragam, daya kecambah diatas 80% dengan bibit yang tumbuh kekar, bebas dari biji Gulma, penyakit hama, atau bahan lain. Benih seyogyanya diberi label secara tepat.

Penggunaan benih bermutu dapat mengurangi jumlah pemakaian benih dan tanam ulang, serta memiliki  daya kecambah dan tumbuh yang tinggi sehingga pertanaman kelihatan seragam. Penggunaan benih unggul juga mempengaruhi pertumbuhan awal tanaman. Pertumbuhan awal yang kekar dapat mengurangi masalah gulma meningkatkan daya tahan terhadap serangan hama penyakit. Kombinasi faktor ini dapat memberikan tambahan hasil panen antara 5-20%

3.    Pemberian Bahan Organik
Pemberian bahan organik berupa sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos (humus) merupakan unsur utama pupuk organik yang dapat berbentuk padat atau cair.
Bahan organik bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan fisik, kimia, dan biologi tanah. Oleh karena itu jerami perlu dikembalikan ke lahan sawah dengan cara dibenam atau diolah menjadi kompos atau dijadikan pakan ternak yang kotorannya diproses menjadi pupuk kandang.

4.    Pengaturan Populasi Tanam
Sampai batas tertentu, semakin tinggi populasi tanaman semakin banyak jumlah malai per satuan luas sehingga berpeluang menaikan hasil panen.

5.    Pemupukan Berdasarkan Kebutuhan Tanaman dan Status hara Tanah
Untuk menunjang pertumbuhannya, tanaman memerlukan pupuk sebagai bahan makanannya. Sumber makanan bagi tanaman diantaranya tersedia melalui pupuk.
Pemupukan penting dilakukan, dalam pelakanaanya pemberian pupuk harus memperhatiakan beberapa hal, diantaranya adalah pelaksanaan pemupukan berimbang, yaitu pemberian berbagai unsur hara dalam bentuk pupuk untuk memenuhi kekurangan hara yang dibutuhkan tanaman berdasarkan tingkat hasil yang ingin dicapai dan hara yang tersedia dalam tanah. Untuk setiap ton gabah yang dihasilkan, tanaman padi membutuhkan hara N sekitar 17,5 Kg, P sebanyak 3 Kg dan K sebanyak 17 Kg. Selain melalui penggunaan pupuk, tingkat hasil yang ditetapkan juga memperhatikan daya dukung lingkungan setempat dengan melihat produktivitas padi pada tahun-tahun sebelumnya.

6.     Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyalit terpadu (PHT) merupakan pendekatan pengendalian yang memperhitungkan faktor ekologi sehingga pengendalian dilakukan agar tidak terlalu mengganggu keseimbangan alami dan tidak menimbulkan kerugian besar.
KOMPONEN TEKNOLOGI PILIHAN 
1. Pengolahan Tanah Sesuai Musim dan Pola Tanam
Pengolahan tanah dapat dilakukan secara sempurna (2 kali bajak dan 1 kali garu) atau minimal, atau tanpa olah tanah. Pemilihan cara yang akan dilakukan ssesuaikan dengan keperluan dan kondisi. Faktor yang menentukan adalah kemarau panjang, pola tanam, jenis/tekstur tanah. Dua minggu sebelum pengolahan tanah, taburkan bahan organik secara merata diatas hamparan sawah. Bahan organik yang digunakan dapat berupa pupuk kandang, sebanyak 2 ton/ha atau kompos jerami sebanyak 5 ton/ha

2. Penggunaan Bibit Muda (<21 hari)
Keuntungan tanam pindah menggunakan bibit muda (< 21 Hari) adalah tanaman tidak stres akibat pencabutan bibit di persemaian, pengangkutan, dari penanaman kembali di sawah, dibandingkan dengan bibit yang lebih tua.
Untuk mendapatkan bibit yang baik usahakan bibit berasal dari benih yang bermutu dan sebelum disemai direndam selama 24 jam lalu ditiriskan selama 48 jam, tambahkan bahan organik seperti kompos, pupuk kandang, dan abu pada bibit padi di persemaian. 
Bila perlu, pasang pagar plastik dan bubu perangkap untuk mengendalikan serangan tikus. Di daerah endemi keong emas, gunakan bibit yang berumur lebih tua.

3. Tanam Bibit 1 – 3 Batang Per lubang
Bibit ditanam 1 – 3 batang per rumpun, lebih dari itu akan meningkatkan persaingan antar bibit dalam rumpun yang sama. Rumpun yang hilang karena tanaman mati atau rusak diserang hama segera disulam, paling lambat 14 hari setelah tanam. Untuk daerah endemi keong emas, tanam bibit 2 – 3 batang per rumpun.

4. Pengairan Secara Efektif dan Efisien
Pemberian air dilakukan secara berselang (intermittent), dilakukan dengan mengatur kondisi sawah dalam keadaan kering dan tergenang secara bergantian.

5. Penyiangan dengan Landak atau Gasrok
Gulma dikendalikan dengan cara pengolahan tanah sempurna, mengatur air dipetakan sawah, menggunakan benih padi bersertifikat, hanya menggunakan kompos sisa tanaman dan kompos pupuk kandang, dan menggunakan herbisida apabila pertumbuhan dan jumlah gulma sudah tinggi. 

6. Panen Tepat Waktu dan Gabah Segera Dirontok
Lakukan panen saat gabah telah menguning, tetapi malai masih sega. Potong padi dengan sabit gerigi, 30 – 40 cm di atas permukaan tanah. Gunakan plastik atau terpal sebagai alas tanaman padi yang baru dipotong dan tumpuk sebelum dirontok. Sebaiknya panen padi dilakukan oleh kelompok pemanen dan dirontokan dengan power tresher atau pedal tresher. Apabila panen dilakukan pada waktu pagi hari sebaiknya pada sore harinya langsung dirontokan. Perontokan lebih dari 2 hari menyebabkan kerusakan beras.

0 komentar:

Posting Komentar