Pages

Senin, 26 Januari 2015

Budidaya Jahe

BUDIDAYA JAHE (Zingiber officinale)

Pendahuluan
Jahe (Zingiber officinale) merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan obat-obatan tradisional. Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae),
Tanaman Jahe termasuk tanaman Terna tahunan yang sering diusahakan sebagai tanaman semusim.
Uraian Tanaman
2.1 Klasifikasi
Divisi                   : Spermatophyta
Sub-divisi           : Angiospermae
Kelas                   : Monocotyledoneae
Ordo                    : Zingiberales
Famili                  : Zingiberaceae
Genus                 : Zingiber
Species               :Zingiber officinale

2.2 Deskripsi / Morfologi Tanaman Jahe
Terna berbatang semu, tinggi 30 cm sampai 1 m, rimpang bila dipotong berwarna kuning atau jingga. Daun sempit, panjang 15 - 23 mm, lebar 8 — 15 mm ; tangkai daun berbulu, panjang 2 - 4 mm ; bentuk lidah daun memanjang, panjang 7,5 - 10 mm, dan tidak berbulu; seludang agak berbulu. Perbungaan berupa malai tersembul dipermukaan tanah, berbentuk tongkat atau bundar telur yang sempit, 2,75 — 3 kali lebarnya, sangat tajam ; panjang malai 3,5 — 5 cm, lebar 1,5 - 1,75 cm ; gagang bunga hampir tidak berbulu, panjang 25 cm, rahis berbulu jarang ; sisik pada gagang terdapat 5 - 7 buah, berbentuk lanset, letaknya berdekatan atau rapat, hampir tidak berbulu, panjang sisik 3 — 5 cm; daun pelindung berbentuk bundar telur terbalik, bundar pada ujungnya, tidak berbulu, berwarna hijau cerah, panjang 2,5 cm, lebar 1 - 1,75 cm ; mahkota bunga berbentuk tabung 2 - 2,5 cm, helainya agak sempit, berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan, panjang 1,5 - 2,5 mm, lebar 3 - 3,5 mm, bibir berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan, panjang 12 — 15 mm ; kepala sari berwarna ungu, panjang 9 mm ; tangkai putik 2

2.3 Jenis Tanaman Jahe
Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya. Umumnya dikenal 3 varietas jahe, yaitu :
1)       Jahe putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak Rimpangnya lebih besar dan gemuk, ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bias dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.
2)       Jahe putih/kuning kecil atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.
3)       Jahe merah. Rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil dari pada jahe putih kecil sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan.

 Manfaat Tanaman
Rimpang jahe dapat digunakan sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan rasa pada makanan seperti roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai minuman. Jahe juga dapat digunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, diolah menjadi asinan jahe, dibuat acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup. Dewasa ini para petani cabe
menggunakan jahe sebagai pestisida alami. Dalam perdagangan jahe dijual dalam bentuk segar, kering, jahe bubuk dan awetan jahe. Disamping itu terdapat hasil olahan jahe seperti: minyak astiri dan koresin yang diperoleh dengan cara penyulingan yang berguna sebagai bahan pencampur dalam minuman beralkohol, es krim, campuran sosis dan lain-lain.
Adapun manfaat secara pharmakologi antara lain adalah sebagai karminatif (peluruh kentut), anti muntah, pereda kejang, anti pengerasan pembuluh darah, peluruh keringat, anti inflamasi, anti mikroba dan parasit, anti piretik, anti rematik, serta merangsang pengeluaran getah lambung dan getah empedu.

Sentra Penanaman
Terdapat di seluruh Indonesia, ditanam di kebun dan di pekarangan. Pada saat ini jahe telah banyak dibudidayakan di Australia, Srilangka, Cina, Mesir, Yunani, India, Indonesia, Jamaika, Jepang, Meksiko, Nigeria, Pakistan. Jahe dari Jamaika mempunyai kualitas tertinggi, sedangkan India merupakan negara produsen jahe terbesar, yaitu lebih dari 50 % dari total produksi jahe dunia.

Syarat Pertumbuhan
5.1. Iklim
1)    Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi, yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun.
2)    Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe memerlukan sinar matahari. Dengan kata lain penanaman jahe dilakukan di tempat yang terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari.
3)    Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman jahe antara 20-35 oC.

5.2. Media Tanam
1)     Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung humus.
2)     Tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir, liat berpasir dan tanah laterik.
3)     Tanaman jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah (pH) sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman tanah (pH) optimum untuk jahe gajah adalah 6,8-7,0.

5.3. Ketinggian Tempat
1)     Jahe tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0 - 2.000 m dpl.
2)     Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian 200 - 600 m dpl.
Standar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya Jahe (Zingiber officinale)
Standar Operasional Budidaya Jahe mencakup :
  1. Pemilihan / Penetapan Lokasi
  2. Pemilihan Benih
  3. Penyemaian Benih
  4. Penyiapan Lahan
  5. Penanaman
  6. Pemupukan
  7. Pemeliharaan
  8. Pengendalian OPT
  9. Pemanenan dan Pasca Panen
  10. Pengemasan

6.1.   Pemilihan Lokasi
a.    Definisi dan Tujuan
Pemilihan Lokasi adalah Penetapan lokasi usaha yang sesuai dengn karakteristik komoditi untuk menghasilkan produksi dan mutu yang optimal. Tujuannya adalah untuk mendapatkan lokasi yang cocok untuk budidaya tanaman Jahe.
b.    Informasi Pokok / Prosedur Kerja
1.  Calon lokasi bukan bekas tanaman rimpang yang sudah ada gejala bakteri, famili solanaceae, kacang-kacangan, pisang-pisangan atau tanaman inang pembawa penyakit layu.
2.  Lahan hanya bisa ditanam 2 kali berturut-turut
3.  Lahan bekas penyakit layu dapat diusahakan untuk pertanaman jahe minimal 5 tahun (jika sudah positif/ serangan berat penyakit layu)
4.  Lahan dan lokasi usaha tani dan penyimpanan hasil harus terpisah dari lahan dan lokasi yang tidak organik
5.  Kesesuaian lahan :
-       Ketinggian : Jahe Empirit 200 – 1000 dpl; jahe gajah : 400 – 800 dpl; Jahe merah : 200 – 600 dpl.
-       Curah Hujan tahunan:  1500 – 3000 mm
-       Suhu udara 25 – 37oC (kelembaban sedang ); (tergantung jenis jahe)
-       Struktur tanah  subur, gembur, banyak mengandung humus
-       Tekstur tanah: berpasir, liat berpasir, dan tanah laterik
-       Kemiringan lahan maksimum 30 %
-       Naungan untuk jahe emprit dan jahe merah maksimal 30 %

6.2.   Pemilihan Benih
a.    Definisi dan Tujuan
Pemilihan Benih adalah proses seleksi bahan tanaman. Tujuannya adalah untuk menjamin stabilitas dan kepastian hasil budidaya tanaman.
b.    Informasi Pokok / Prosedur Kerja
Benih yang berkualitas harus mempunyai ciri-ciri :
1.    Varietas unggul yang teridentifikasi dengan jelas asal usulnya.
2.    Merupakan spesies/ varietas yang tidak tercampur
3.    Berasal dari tanaman induk yang sehat dan berumur 8 – 10 bulan
4.    Tidak ada gejala penyakit layu lalat rimpang dab kutu tempurung
5.    Bila rimpang dipatahkan akan terlihat banyak serat
6.    Kulit kencang dan tidak mudah terkelupas
7.    Warna lebi mengkilat dan terlihat bernas
8.     Mempunyai berat antara 20 – 40 g (Jahe emprit / merah); 20 – 60 gr (Jahe gajah)
9.    Rimpang mempunyai 2 – 3 mata tunas
10. Benih tidak cacat fisik (luka, memar)
11. Kebutuhan benih 1 – 1,5 ton / ha (jahe merah/emprit), 2 – 2,5 ton / ha ( jahe gajah), (termasuk untuk sulaman)

6.3.   Penyemaian Benih
a.    Definisi dan Tujuan
Penyemaian benih adalah proses peletakan benih untuk dikecambahkan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang seragam.
b.    Informasi Pokok / Prosedur Kerja
1.    Media penyemaian berupa jerami atau sekam dengan keterbalan masing-masing 5 cm dalam 4 lapis dengan ketinggian 20 – 25 cm
2.    Kelembabannya terjaga dengan disemprot air 1-2 kali/ minggu (jangan disiram)
3.    Rimpang yang digunakan harus sehat, sudah dijemur ulang sekitar ½ - 1 hari dan memiliki 2-3 mata tunas
4.    Pencelupan rimpang ke dalam larutan desinfektan dan zat pengatur tumbuh; sekitar 1 menit sebelum dilakukan penyemaian di daam media semai;
5.    Penggunaan abu dapur atau sekam padi di bagian atas media semai
6.    Penyemaian beih dilakukan selama 2 – 4 minggu.


6.4.   Penyiapan Lahan
a.    Definisi dan Tujuan
Penyiapan lahan adalah rangkaian kegiatan mulai dari membersihkan lahan dari bebatuan, gulma dan sisa-sisa tanaman lain. Tujuannya adalah lahan siap ditanam bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
b.    Informasi Pokok / Prosedur Kerja
Kriteria lahan siap tanam
1.    bersih dari bebatuan, gulma dan sisa-sisa tanaman lainnya;
2.    Lahan gembur;
3.    Bedengan tertata rapih;
4.    Pada tanah miring, buat guludan dengan jarak tanam sekitar 30 x 60 cm dan pada tanah datar, dengan lebar bedengan antara 90 – 120 cm, tinggi bedengan sesuai kondisi lahan;
5.    Arah bedengan dibuat dengan memperhatikan konservasi lahan;
6.    Lubang tanam dengan dengan kedalaman 25 – 30 cm dan jarak tanam sekitar 30 x 60 cm
7.    Pemberian pupuk organik / pupuk kandang yang matang (minimal 0,5 kg/lubang) ke dalam lubang tanam 1 minggu sebelum penanaman.
6.5.   Penaman
a.    Definisi dan Tujuan
Penanaman adalah Proses meletakkan beih ke dalam lubang tanam atau alur yang sudah disiapkan sesuai jarak tanam. Tujuannya adalah agar benih dapat tumbuh dengan baik dan seragam..
b.    Informasi Pokok / Prosedur Kerja
1.    Melakukan penanaman pada awal musim penghujan;
2.    Penenaman dilakukan sesuai dengan jarak tanam yang sudah ditentukan dengan kedalaman tanam sekitar 15 cm;
3.    Menanam benih yang telah bertunas dalam posisi rebah dan tunas menghadap ke atas;
4.    Memadatkan tanah di sekitar benih agar tanaman kokoh.
6.6.   Pemupukan
a.    Definisi dan Tujuan
Pemupukan adalah pemberian unsur hara berupa pupuk organik ke tanaman. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan unsur hara yang diperlukan agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi maksimal.
b.    Informasi Pokok / Prosedur Kerja
1.    Pupuk organik yang diberikan bermutu dengan ciri-ciri tidak berbau menyengat, remah, tidak membawa gulma dan hama penyakit.
2.    Pemberian pupuk anorganik yang disarankan adalah dengan prinsip LEISA (Low External input Sustainable Agriculture) yaitu Urea : 600 kg / ha; SP-36 : 300 kg/ha; dan KCl : 400 kg/ha;
3.    Areal tanam telah diberi pupuk dasar berupa pupuk organik kompos atau kandang dengan dosis 1 karung per 100 m2;
4.    Pemupukan susulan pada umur 6 – 8 minggu dengan pupuk organik kompos sekitar 15 – 20 ton / ha
6.7.   Pemeliharaan
a.    Definisi dan Tujuan
Pemeliharaan adalah suatu rangkaian kegiatan yang mencakup kegiatan penyulaman, penyiangan, penyiraman/pengairan dan pembumbunan. Tujuannya adalah agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi secara maksimal.
b.    Informasi Pokok / Prosedur Kerja
1.    Kondisi pertamanan bertumbuh dengan baik, bebas dari gulma pertumbuhan seragam;
2.    Penyiraman dilakukan disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan iklimnya;
3.    Penyulaman pada umur satu bulan setelah tanam dengan menggunakan beih/bibit yang telah disiapkan dengan umur yang sama;
4.    Kegiatan penyiangan dilakukan sesuai dengan kondisi gulma. Usahakan pada umur 3 – 6 bulan tanaman bebas dari gulma, setelah berumur 6 bulan dilakukan sesuai dengan kebutuhan;
5.    Penyiangan dilakukan dengan mekanis/manual, tidak boleh menggunakan herbisida. Untuk tanaman yang berumur 4 bulan, penyiangan dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak akar tanaman dan mencegah masuknya penyakit;
6.    Pembumbunan dilakukan setiap bulan, mulai umur 2 bulan dan bisa dilakukan bersamaan dengan penyiangan.

6.8.   Pengendalian OPT
a.    Definisi dan Tujuan
Pengendalian OPT adalah tindakan pengendalian yang dilakukan untuk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh OPT dengan cara memadukan satu atau lebih teknik pengendalian yang dipadukan dalam satu kesatuan. Tujuannya adalah untuk mengurangi resiko kehilangan hasil dan meningkatkan mutu serta menjaga kelestarian lingkungan.
b.    Informasi Pokok / Prosedur Kerja
1.    Hama
Hama yang sering menyerang tanaman jahe adalah sebagai berikut :
a.    Lalat Rimpang Mimegralla coeruleifrons Macquart
1)   Gejala serangan
-     Gejala serangan lalat rimpang sulit ddibedakan dengan serangan penyakit layu;
-     Setelah 8 – 10 hari tanaman terlihat menguning dan mengering, dimulai dari daun sebelah bawah kemudian diikuti seluruh daun;
-     Serangan berat mengakibatkan tanaman layu dan kering, sedangkan rimpangnya keropos.
2)   Pengendalian
-     Tidak menaman jahe tumpang sari dengan kunyit atau tanaman lain keluarga Zingiberaceae yang merupakan tanaman inang hama ini.
-     Sortasi rimpang sebelum tanam;
-     Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat, bebas dari serangan penyakit layu atau penyakit lainnya
-     Sanitasi dengan membersihkan pertanaman dari sisa-sisa tanaman dan memusnakannya.
-     Dapat dilakukan dengan menyemprotkan furadan dua minggu setelah tanam
b.    Hama Kutu Perisai Aspidiella hartii Gr
1)   Gejala serangan
-     Serangan hama tampak pada dari kutu-kutu berbentuk perisai yang menempel di permukaan rimpang dan di bawah sisik rimpang sehingga nampak kusam;
-     umumnya menyerang di pertanaman kemudian dapat berkembang dengan baik di tempat penyimpanan
2)   Pengendalian
-     Penggunaan bahan tanaman yang bersih dan sehat
-      Memutuskan siklus hidup OPT (pergiliran tanaman dengan bukan tanaman inang)
-     Sortasi hasil panen
-     Menyimpan hasil panen di tempat yang memenuhi syarat ( bersih  dan tidak lembab)
-     Menaburi rimpang dengan abu dan menyikat kutu yang menempel pada rimpang dengan sikat halus.
-     Perlakukan benih dan merendam hasil panen dengan larutan insektisida yang terdaftar dan diijinkan menteri pertanian.




2.    Penyakit
a.    Layu Bakteri Ralstonia (Pseudomonas)solanacearum
1)    Gejala Serangan
-     Gejala pertama pada umur 3 bulan adalah daun menguning dan menggulung, dimulai dari daun yang lebih tua kemudian diikuti daun yang lebih muda, selanjutnya samapai semua helai dain kuning dan mati.
-     Gejala menguning pada daun biasanya di mulai dari pinggir daun kemudian menyebar ke seluruh helai daun
-     Pada bagian pangkal batang terlihat gejala cekung basah dan garis-garis hitam atau bau-abu sepanjang batang.
-     Pada tahap perkembangan, batang mudah di cabut dari bagian rimpang. Kalau potongan pangkal batang atau rimpang dipijit dengan tangan akan mengeluarkan lendir berwarna putih seperti susu.
-     Penyakit ini dapat menyebar keseluruh pertanaman dalam beberapa minggu.
2)    Pengendalian
-     Tidak menanam jahe pada areal yang terserang penyakit ini minimal 5 tahun sebaiknya ditanami tanaman yang bukan inang penyakit ini antara lain pada dan jagung
-     Membuat saluran-saluran drainase yang baik agar tidak tergenag air;
-     Melakukan sanitasi dan pemeliharaan kebun dengan teratur dan intensif, yaitu mencabut tanaman sakit, mencabut gulma dengan baik.
-     Pemakaian abu sekam dan ekstrak bawang merah pada tanah terkonaminasi dapat menekan serangan penyakit sampai 33 %
-     Mencabut dan membakar tanaman yang mulai terserang penyakit ini;
-     Pemakaian kompos atau agens antagonis seperti Trichoderma spp atau Gliocladium spp. Atau Pseudomonas fluorescens, kompos biotriba dapat menekan serangan penyakit.
-     Pengendalian dapat menggunakan Dithane M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%)
b.    Busuk Rimpang Rhizoctonia solani Kuhn
1)    Gejala Serangan
-     Perubahan warna pada daun di bagian bawah, daun berubah warna dari hijau menjadi uning dan berangsur-angsur menjadi layu.
-     Pada serangan berat rimpang menjadi busuk, dan batang semu keriput
-     Bila tanaman di cabut, rimpang tidak segar, kering dan warnanya kehitam-hitaman;
-     Bila rimpang dibelah, maka bagian dalamnya berwarna agak gelap dan membusuk;
-     Rimpang terinfeksi R. Solani sulit dibedakan secara visual dengan panyakit lain yang disebabkan oleh Fusarium sp
2)    Pengendalian
-     Memilih benih yang sehat dan cukup umur dan tidak terdapat luka;
-     Menanam jahe di lahan yang drainasenya baik
-     Mengadakan pergiliran (rotasi) tanaman
-     Melakukan eradikasi selektif (pencabutan) dan membakarnya
-     Bekas tanaman sakit diberi kompos matang atau agens antagonis seperti Trichoderma spp atau Gliocladium spp. Atau Pseudomonas fluorescens;
-     Pengendalian dapat menggunakan Dithane M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%)
c.    Penyakit Kuning Fusarium sp
1)    Gejala Serangan
-     Gejala pertama adalah bagian daun muda berwarna pucat, kemudan gejala menyebar ke seluruh bagian daun lainnya, batang menjadi keriput tetapi tidak jatuh ke tanah sebagaimana gejala serangan panyakit layu bakteri;
-     Rimpang berwarna kecoklatan pada bagian terinfeksi tetapi tidak menyeluruh;
2)    Pengendalian
-     Memilih benih yang sehat dan cukup umur dan tidak terdapat luka;
-     Menanam jahe di lahan yang drainasenya baik
-     Mengadakan pergiliran (rotasi) tanaman
-     Melakukan eradikasi selektif (pencabutan) dan membakarnya
-     Sebelum penanaman pada lubang tanamn diberi kompos matang atau agens antagonis seperti Trichoderma spp atau Gliocladium spp

d.    Bercak Daun Phyllosticta zingiberi Ramakr
1)    Gejala Serangan
-     Gejala awal penyakit ini adalah adanya bercak klorotik kecil berbentuk oval pada daun;
-     Pada keadaan serangan berat seluruh daun dapat terserang dan menjadi kering.
2)    Pengendalian
-     Jarak tanam tidak terlalu rapat agar kelembaban di sekitar tanaman tidak terlalu tinggi
-     Sanitasi kebun
-     Perbaikan drainase
-     Penyemprotan dengan fungisida segera setelah ditemukan adanya gejala sakit di kebun;
-     Eradikasi tanaman / bagian tanaman yang sakit dan dimusnahkan.
-     Pengendalian dapat menggunakan Dithane M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%)
e.    Penyakit Akar Nematoda
1)    Gejala Serangan
-     Tanaman terserang cenderung lebih cepat tua dibandingkan yang sehat;
-     Serangan lebih berat dapat mengakibatkan akar dan rimpang menjadi busuk, bila rimpang terserang dipotong melintang tampak luka-luka berwarna coklat pada batas antara bagian rimpang sakit dengan yang masih sehat.
2)     Pengendalian
-     Dipilih lahan yang belum pernah ditanami jahe dan belum pernah dilaporkan terinfeksi berat oleh nematoda;
-     untuk lahan yang sudah pernah terinfeksi nematoda maka diperlakukan secara kimia sekurang-kurangnya 2 – 3 minggu sebelum tanam;
-     Sanitasi kebun dengan baik;
-     Rotasi tanaman dan pemilihan waktu tanam secara benar;
-     Penggunaan benih bebas nematoda;
-     Pemanfaatan bakteri Pasteuria penetrans dengan dosis 2 kapsul/tanaman/6 bulan untuk mengendalikan Meloidogyne spp., dan Radopholus similis;
-     Pestisida nabati tepung biji mimba 25 – 50 gr/tanaman/3 bulan (untuk daerah yang ada tanaman mimba)
-     Pemberian insektisida



6.9.   Panen
a.    Definisi dan Tujuan
Panen adalah kegiatan pengambilan hasil berupa rimpang dengan cara membongkar seluruh ripang menggunakan garpu dan atau cangkul.
b.    Informasi Pokok / Prosedur Kerja
1.    Panen untuk konsumsi dilakukan pada saat rimpang berumur 6 – 10 bulan, sedangkan panen untuk bibit dilakukan pada saat rimpang berumur 8 bulan.
2.    Ciri-ciri rimpang siap panen :
Ø  Warna daun berubah dari hijau menjadi kuning dan batang semua mengering
Ø  Kulit rimpang kencang dan tidak mudah terkelupas / tidak mudah lecet
Ø  Apabila dipatahkan berserat dan aroma rimpang menyengat;
Ø  Warna rimpang lebih mengkilat dan terlihat bernas;
3.    Untuk jahe gajah lakukan pemanenan pada saat tanaman berumur 6 – 10 bulan
4.    Untuk jahe emprit dan jahe merah dilakukan pemanenan setelah semua daun gugur;
5.    Lakukan pemanenan dengan hati-hati menggunakan garpu/ cangkul, tidak dengan cara dicabut dan diusahakan jangan sampai rimpang jahe terluka;
6.    Bersihkan rumpun rimpang jahe dari akar, tanah dan batang-batang tanamannya.

6.10.      Pasca Panen
a.    Definisi dan Tujuan
Pasca panen adalah tindakan yang dilakukan setelah panen, mulai dari membersihkan hasil panen dari ktoran, tanah dan mikroorganisme yang tidak diinginkan melalui pencucian, sortasi, perajangan, pengeringan, pengemasan sampai dengan penyimpanan. Tujuannya adalah untuk menghasilkan produk yang tahan simpan, berkualitas dengan mempertahan kandungan bahan aktif yang memenuhi standar mutu secara konsisten.

c.    Informasi Pokok / Prosedur Kerja
Pasca panen dilakukan untuk menghasilkan produk segar dan simplisia. Tahapan pembuatan simplisia meliputi :
a.    Penyiapan bahan baku;
Bahan baku dalam simplisia jahe adalah rimpang jahe segar dari hasil panen yang besar dan cukup umur ( 8 – 10 bulan) masih dalam keadaan segar, tidak busuk dan tidak rusak/ cacat
b.    Penyiapan peralatan dan bahan kemasan
-       Wadah / bak / ember;
-       Sikat plastik
-       Keranjang plastik
-       Pisau tidak berkarat
-        Alas perajang
-       Alat pengeringan; tampi, solar dryer (sinar matahari)
-       Para-para
-       Bahan rak yang direkomendasikan adalah alumunium / stainlesss steel
-       Timbangan
-       Kemasan baru (karung, kantong plastik, tong, fiber drum)
-       label
c.    Pemrosesan
1.    Penyortiran awal (basah)
Pemisahan rimpang jahe yang bagus dengan rimpang jahe yang busuk/ rusak.
2.    Pencucian
Pencucian dilakukan dengan sikat plastik pada air mengalir secara hati-hati untuk menghilangkan kotoran dari hasil panen dan mengurangi mikroba yang menempel pada rimpang jahe.
3.    Penimbangan bahan
Rimpang yang telah diseleksi dilakukan penimbangan untuk mengetahui berat bersih bahan yang diolah
4.    Perajangan
Perajangan dilakukan secara manual/ mesin dengan arah rajangan membujur seragam dengan ketebalan 4 – 6 mm atau sesuai dengan permintaan pasar. Perajangan dilakukan untuk mempercepat pengeringan.
5.    Pengeringan
Pengeringan melalui proses penjemuran matahari sampai kadar air 10 %. Tempat pengeringan diupayakan ditempat yang tidak memungkinkan masuknya kotoran 20 – 30 cm di atas tanah. Pengeringan adalah proses terpenting dalam pembuatan simplisia
6.    Penyortiran akhir (simplisia)
Penyortiran akhir dilakukan berdasarkan kualitasnya. Kemudian dilakukan penimbangan untuk mengetahui rendemen  hasi pemrosesan.
d.    Pengemasan dan pelabelan
Setelah simplisia mencapai derajat kekeringan yang diinginkan, selanjutnya dapat segera dikemas untuk menghidari penyerapan kembali uap air. Bahan Kemas/  kantong diupayakan bersih dan tertutup rapat dan diberi label nama jenis simplisia. Kemasan simplisia kering diusahakan jangan ditumpuk-tumpuk mesti ada sekat diantara tumpukan.
e.    Penyimpanan
Penyimpanan dilakukan di ruang / gudang bersih dan sirkulasi udaranya baik dan tidak lembab, dan bebas dari hama gudang. Jika penyimpanan baik dan benar, produk dapat disimpan hingga 10 bulan.

0 komentar:

Posting Komentar