BUDIDAYA
JAHE (Zingiber officinale)
Pendahuluan
Jahe (Zingiber officinale) merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun
berbatang semu. Jahe berasal dari Asia
Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali
memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan obat-obatan tradisional. Jahe termasuk dalam
suku temu-temuan (Zingiberaceae),
Tanaman Jahe termasuk tanaman Terna
tahunan yang sering diusahakan sebagai tanaman semusim.
Uraian Tanaman
2.1
Klasifikasi
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas :
Monocotyledoneae
Ordo :
Zingiberales
Famili :
Zingiberaceae
Genus :
Zingiber
Species :Zingiber
officinale
2.2
Deskripsi / Morfologi Tanaman Jahe
2.3
Jenis Tanaman Jahe
Jahe dibedakan
menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya. Umumnya dikenal 3 varietas jahe, yaitu :
1)
Jahe
putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak Rimpangnya
lebih besar dan gemuk, ruas rimpangnya
lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bias dikonsumsi baik saat berumur muda maupun
berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.
2)
Jahe putih/kuning kecil atau disebut juga jahe sunti
atau jahe emprit Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung.
Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan
minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih
pedas, disamping seratnya tinggi.
Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrak oleoresin
dan minyak atsirinya.
3)
Jahe merah. Rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil
dari pada jahe putih kecil sama seperti
jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan
minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan
obat-obatan.
Manfaat Tanaman
Rimpang
jahe dapat digunakan sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan rasa pada makanan seperti
roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai minuman. Jahe juga dapat
digunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, diolah
menjadi asinan jahe,
dibuat acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup. Dewasa ini para petani cabe
menggunakan jahe sebagai
pestisida alami. Dalam perdagangan jahe dijual dalam bentuk segar, kering, jahe bubuk dan awetan jahe.
Disamping itu terdapat hasil olahan jahe seperti: minyak astiri dan
koresin yang diperoleh dengan cara penyulingan yang berguna sebagai bahan
pencampur dalam minuman beralkohol, es krim, campuran sosis dan lain-lain.
Adapun manfaat secara
pharmakologi antara lain adalah sebagai karminatif (peluruh kentut), anti muntah, pereda kejang, anti pengerasan
pembuluh darah, peluruh keringat, anti inflamasi, anti mikroba dan parasit, anti piretik, anti
rematik, serta merangsang pengeluaran getah lambung dan getah empedu.
Sentra Penanaman
Terdapat
di seluruh Indonesia, ditanam di kebun dan di pekarangan. Pada saat ini jahe telah banyak
dibudidayakan di Australia, Srilangka, Cina, Mesir, Yunani, India, Indonesia,
Jamaika, Jepang, Meksiko, Nigeria, Pakistan. Jahe dari Jamaika mempunyai kualitas
tertinggi, sedangkan India merupakan negara produsen jahe terbesar, yaitu lebih
dari 50 % dari total produksi
jahe dunia.
Syarat Pertumbuhan
5.1. Iklim
1)
Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi,
yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun.
2)
Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe
memerlukan sinar matahari. Dengan kata lain penanaman jahe dilakukan di tempat
yang terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari.
3) Suhu udara optimum untuk
budidaya tanaman jahe antara 20-35 oC.
5.2. Media Tanam
1)
Tanaman
jahe paling cocok ditanam pada tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung humus.
2)
Tekstur
tanah yang baik adalah lempung berpasir, liat berpasir dan tanah laterik.
3)
Tanaman
jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah (pH) sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman tanah (pH) optimum untuk jahe gajah adalah 6,8-7,0.
5.3. Ketinggian Tempat
1)
Jahe
tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0 - 2.000 m dpl.
2)
Di Indonesia pada umumnya ditanam pada
ketinggian 200 - 600 m dpl.
Standar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya
Jahe (Zingiber
officinale)
Standar Operasional
Budidaya Jahe mencakup :
- Pemilihan / Penetapan Lokasi
- Pemilihan Benih
- Penyemaian Benih
- Penyiapan Lahan
- Penanaman
- Pemupukan
- Pemeliharaan
- Pengendalian OPT
- Pemanenan dan Pasca Panen
- Pengemasan
6.1. Pemilihan
Lokasi
a. Definisi
dan Tujuan
Pemilihan Lokasi adalah
Penetapan lokasi usaha yang sesuai dengn karakteristik komoditi untuk
menghasilkan produksi dan mutu yang optimal. Tujuannya adalah untuk mendapatkan
lokasi yang cocok untuk budidaya tanaman Jahe.
b. Informasi
Pokok / Prosedur Kerja
1. Calon lokasi bukan bekas tanaman
rimpang yang sudah ada gejala bakteri, famili solanaceae, kacang-kacangan, pisang-pisangan atau tanaman inang
pembawa penyakit layu.
2. Lahan hanya bisa ditanam 2 kali
berturut-turut
3. Lahan bekas penyakit layu dapat diusahakan
untuk pertanaman jahe minimal 5 tahun (jika sudah positif/ serangan berat
penyakit layu)
4. Lahan dan lokasi usaha tani dan
penyimpanan hasil harus terpisah dari lahan dan lokasi yang tidak organik
5. Kesesuaian lahan :
-
Ketinggian
: Jahe Empirit 200 – 1000 dpl; jahe gajah : 400 – 800 dpl; Jahe merah : 200 –
600 dpl.
-
Curah
Hujan tahunan: 1500 – 3000 mm
-
Suhu
udara 25 – 37oC (kelembaban sedang ); (tergantung jenis jahe)
-
Struktur
tanah subur, gembur, banyak mengandung
humus
-
Tekstur
tanah: berpasir, liat berpasir, dan tanah laterik
-
Kemiringan
lahan maksimum 30 %
-
Naungan
untuk jahe emprit dan jahe merah maksimal 30 %
6.2. Pemilihan
Benih
a. Definisi
dan Tujuan
Pemilihan Benih adalah
proses seleksi bahan tanaman. Tujuannya adalah untuk menjamin stabilitas dan
kepastian hasil budidaya tanaman.
b. Informasi
Pokok / Prosedur Kerja
Benih yang berkualitas harus mempunyai
ciri-ciri :
1.
Varietas
unggul yang teridentifikasi dengan jelas asal usulnya.
2.
Merupakan
spesies/ varietas yang tidak tercampur
3.
Berasal
dari tanaman induk yang sehat dan berumur 8 – 10 bulan
4.
Tidak
ada gejala penyakit layu lalat rimpang dab kutu tempurung
5.
Bila
rimpang dipatahkan akan terlihat banyak serat
6.
Kulit
kencang dan tidak mudah terkelupas
7.
Warna
lebi mengkilat dan terlihat bernas
8.
Mempunyai berat antara 20 – 40 g (Jahe emprit
/ merah); 20 – 60 gr (Jahe gajah)
9.
Rimpang
mempunyai 2 – 3 mata tunas
10. Benih tidak cacat fisik (luka, memar)
11. Kebutuhan benih 1 – 1,5 ton / ha (jahe
merah/emprit), 2 – 2,5 ton / ha ( jahe gajah), (termasuk untuk sulaman)
6.3. Penyemaian
Benih
a. Definisi
dan Tujuan
Penyemaian
benih adalah proses peletakan benih untuk dikecambahkan. Tujuannya adalah untuk
mendapatkan pertumbuhan tanaman yang seragam.
b. Informasi
Pokok / Prosedur Kerja
1.
Media
penyemaian berupa jerami atau sekam dengan keterbalan masing-masing 5 cm dalam
4 lapis dengan ketinggian 20 – 25 cm
2.
Kelembabannya
terjaga dengan disemprot air 1-2 kali/ minggu (jangan disiram)
3.
Rimpang
yang digunakan harus sehat, sudah dijemur ulang sekitar ½ - 1 hari dan memiliki
2-3 mata tunas
4.
Pencelupan
rimpang ke dalam larutan desinfektan dan zat pengatur tumbuh; sekitar 1 menit
sebelum dilakukan penyemaian di daam media semai;
5.
Penggunaan
abu dapur atau sekam padi di bagian atas media semai
6.
Penyemaian
beih dilakukan selama 2 – 4 minggu.
6.4. Penyiapan
Lahan
a. Definisi
dan Tujuan
Penyiapan lahan adalah rangkaian
kegiatan mulai dari membersihkan lahan dari bebatuan, gulma dan sisa-sisa
tanaman lain. Tujuannya adalah lahan siap ditanam bagi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman.
b. Informasi
Pokok / Prosedur Kerja
Kriteria lahan siap tanam
1.
bersih
dari bebatuan, gulma dan sisa-sisa tanaman lainnya;
2.
Lahan
gembur;
3.
Bedengan
tertata rapih;
4.
Pada
tanah miring, buat guludan dengan jarak tanam sekitar 30 x 60 cm dan pada tanah
datar, dengan lebar bedengan antara 90 – 120 cm, tinggi bedengan sesuai kondisi
lahan;
5.
Arah
bedengan dibuat dengan memperhatikan konservasi lahan;
6.
Lubang
tanam dengan dengan kedalaman 25 – 30 cm dan jarak tanam sekitar 30 x 60 cm
7.
Pemberian
pupuk organik / pupuk kandang yang matang (minimal 0,5 kg/lubang) ke dalam
lubang tanam 1 minggu sebelum penanaman.
6.5. Penaman
a. Definisi
dan Tujuan
Penanaman adalah Proses meletakkan
beih ke dalam lubang tanam atau alur yang sudah disiapkan sesuai jarak tanam.
Tujuannya adalah agar benih dapat tumbuh dengan baik dan seragam..
b. Informasi
Pokok / Prosedur Kerja
1.
Melakukan
penanaman pada awal musim penghujan;
2.
Penenaman
dilakukan sesuai dengan jarak tanam yang sudah ditentukan dengan kedalaman
tanam sekitar 15 cm;
3.
Menanam
benih yang telah bertunas dalam posisi rebah dan tunas menghadap ke atas;
4.
Memadatkan
tanah di sekitar benih agar tanaman kokoh.
6.6. Pemupukan
a. Definisi
dan Tujuan
Pemupukan
adalah pemberian unsur hara berupa pupuk organik ke tanaman. Tujuannya adalah
untuk memenuhi kebutuhan unsur hara yang diperlukan agar tanaman dapat tumbuh
dan berproduksi maksimal.
b. Informasi
Pokok / Prosedur Kerja
1.
Pupuk
organik yang diberikan bermutu dengan ciri-ciri tidak berbau menyengat, remah,
tidak membawa gulma dan hama penyakit.
2.
Pemberian
pupuk anorganik yang disarankan adalah dengan prinsip LEISA (Low External input
Sustainable Agriculture) yaitu Urea : 600 kg / ha; SP-36 : 300 kg/ha; dan KCl :
400 kg/ha;
3.
Areal
tanam telah diberi pupuk dasar berupa pupuk organik kompos atau kandang dengan
dosis 1 karung per 100 m2;
4.
Pemupukan
susulan pada umur 6 – 8 minggu dengan pupuk organik kompos sekitar 15 – 20 ton
/ ha
6.7. Pemeliharaan
a. Definisi
dan Tujuan
Pemeliharaan adalah suatu rangkaian
kegiatan yang mencakup kegiatan penyulaman, penyiangan, penyiraman/pengairan
dan pembumbunan. Tujuannya adalah agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi
secara maksimal.
b. Informasi
Pokok / Prosedur Kerja
1.
Kondisi
pertamanan bertumbuh dengan baik, bebas dari gulma pertumbuhan seragam;
2.
Penyiraman
dilakukan disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan iklimnya;
3.
Penyulaman
pada umur satu bulan setelah tanam dengan menggunakan beih/bibit yang telah
disiapkan dengan umur yang sama;
4.
Kegiatan
penyiangan dilakukan sesuai dengan kondisi gulma. Usahakan pada umur 3 – 6
bulan tanaman bebas dari gulma, setelah berumur 6 bulan dilakukan sesuai dengan
kebutuhan;
5.
Penyiangan
dilakukan dengan mekanis/manual, tidak boleh menggunakan herbisida. Untuk
tanaman yang berumur 4 bulan, penyiangan dilakukan dengan hati-hati agar tidak
merusak akar tanaman dan mencegah masuknya penyakit;
6.
Pembumbunan
dilakukan setiap bulan, mulai umur 2 bulan dan bisa dilakukan bersamaan dengan
penyiangan.
6.8. Pengendalian
OPT
a. Definisi
dan Tujuan
Pengendalian
OPT adalah tindakan pengendalian yang dilakukan untuk mencegah kerugian pada
budidaya tanaman yang diakibatkan oleh OPT dengan cara memadukan satu atau
lebih teknik pengendalian yang dipadukan dalam satu kesatuan. Tujuannya adalah
untuk mengurangi resiko kehilangan hasil dan meningkatkan mutu serta menjaga
kelestarian lingkungan.
b. Informasi
Pokok / Prosedur Kerja
1. Hama
Hama yang sering menyerang tanaman
jahe adalah sebagai berikut :
a.
Lalat Rimpang Mimegralla
coeruleifrons Macquart
1) Gejala
serangan
-
Gejala
serangan lalat rimpang sulit ddibedakan dengan serangan penyakit layu;
-
Setelah
8 – 10 hari tanaman terlihat menguning dan mengering, dimulai dari daun sebelah
bawah kemudian diikuti seluruh daun;
-
Serangan
berat mengakibatkan tanaman layu dan kering, sedangkan rimpangnya keropos.
2) Pengendalian
-
Tidak
menaman jahe tumpang sari dengan kunyit atau tanaman lain keluarga Zingiberaceae yang merupakan tanaman
inang hama ini.
-
Sortasi
rimpang sebelum tanam;
-
Mengusahakan
pertumbuhan tanaman yang sehat, bebas dari serangan penyakit layu atau penyakit
lainnya
-
Sanitasi
dengan membersihkan pertanaman dari sisa-sisa tanaman dan memusnakannya.
-
Dapat
dilakukan dengan menyemprotkan furadan dua minggu setelah tanam
b. Hama
Kutu Perisai Aspidiella hartii Gr
1) Gejala
serangan
-
Serangan
hama tampak pada dari kutu-kutu berbentuk perisai yang menempel di permukaan
rimpang dan di bawah sisik rimpang sehingga nampak kusam;
-
umumnya
menyerang di pertanaman kemudian dapat berkembang dengan baik di tempat
penyimpanan
2) Pengendalian
-
Penggunaan
bahan tanaman yang bersih dan sehat
-
Memutuskan siklus hidup OPT (pergiliran
tanaman dengan bukan tanaman inang)
-
Sortasi
hasil panen
-
Menyimpan
hasil panen di tempat yang memenuhi syarat ( bersih dan tidak lembab)
-
Menaburi
rimpang dengan abu dan menyikat kutu yang menempel pada rimpang dengan sikat
halus.
-
Perlakukan
benih dan merendam hasil panen dengan larutan insektisida yang terdaftar dan
diijinkan menteri pertanian.
2. Penyakit
a. Layu
Bakteri Ralstonia (Pseudomonas)solanacearum
1) Gejala
Serangan
-
Gejala
pertama pada umur 3 bulan adalah daun menguning dan menggulung, dimulai dari
daun yang lebih tua kemudian diikuti daun yang lebih muda, selanjutnya samapai
semua helai dain kuning dan mati.
-
Gejala
menguning pada daun biasanya di mulai dari pinggir daun kemudian menyebar ke
seluruh helai daun
-
Pada
bagian pangkal batang terlihat gejala cekung basah dan garis-garis hitam atau
bau-abu sepanjang batang.
-
Pada
tahap perkembangan, batang mudah di cabut dari bagian rimpang. Kalau potongan
pangkal batang atau rimpang dipijit dengan tangan akan mengeluarkan lendir
berwarna putih seperti susu.
-
Penyakit
ini dapat menyebar keseluruh pertanaman dalam beberapa minggu.
2) Pengendalian
-
Tidak
menanam jahe pada areal yang terserang penyakit ini minimal 5 tahun sebaiknya
ditanami tanaman yang bukan inang penyakit ini antara lain pada dan jagung
-
Membuat
saluran-saluran drainase yang baik agar tidak tergenag air;
-
Melakukan
sanitasi dan pemeliharaan kebun dengan teratur dan intensif, yaitu mencabut
tanaman sakit, mencabut gulma dengan baik.
-
Pemakaian
abu sekam dan ekstrak bawang merah pada tanah terkonaminasi dapat menekan
serangan penyakit sampai 33 %
-
Mencabut
dan membakar tanaman yang mulai terserang penyakit ini;
-
Pemakaian
kompos atau agens antagonis seperti
Trichoderma spp atau Gliocladium spp.
Atau Pseudomonas fluorescens, kompos
biotriba dapat menekan serangan penyakit.
-
Pengendalian
dapat menggunakan Dithane M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%)
b.
Busuk Rimpang Rhizoctonia solani Kuhn
1) Gejala
Serangan
-
Perubahan
warna pada daun di bagian bawah, daun berubah warna dari hijau menjadi uning
dan berangsur-angsur menjadi layu.
-
Pada
serangan berat rimpang menjadi busuk, dan batang semu keriput
-
Bila
tanaman di cabut, rimpang tidak segar, kering dan warnanya kehitam-hitaman;
-
Bila
rimpang dibelah, maka bagian dalamnya berwarna agak gelap dan membusuk;
-
Rimpang
terinfeksi R. Solani sulit dibedakan secara visual dengan panyakit lain yang
disebabkan oleh Fusarium sp
2) Pengendalian
-
Memilih
benih yang sehat dan cukup umur dan tidak terdapat luka;
-
Menanam
jahe di lahan yang drainasenya baik
-
Mengadakan
pergiliran (rotasi) tanaman
-
Melakukan
eradikasi selektif (pencabutan) dan membakarnya
-
Bekas
tanaman sakit diberi kompos matang atau agens antagonis seperti Trichoderma spp atau Gliocladium spp. Atau Pseudomonas fluorescens;
-
Pengendalian
dapat menggunakan Dithane M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%)
c. Penyakit
Kuning Fusarium sp
1) Gejala
Serangan
-
Gejala
pertama adalah bagian daun muda berwarna pucat, kemudan gejala menyebar ke
seluruh bagian daun lainnya, batang menjadi keriput tetapi tidak jatuh ke tanah
sebagaimana gejala serangan panyakit layu bakteri;
-
Rimpang
berwarna kecoklatan pada bagian terinfeksi tetapi tidak menyeluruh;
2) Pengendalian
-
Memilih
benih yang sehat dan cukup umur dan tidak terdapat luka;
-
Menanam
jahe di lahan yang drainasenya baik
-
Mengadakan
pergiliran (rotasi) tanaman
-
Melakukan
eradikasi selektif (pencabutan) dan membakarnya
-
Sebelum
penanaman pada lubang tanamn diberi kompos matang atau agens antagonis seperti
Trichoderma spp atau Gliocladium spp
d. Bercak
Daun Phyllosticta zingiberi Ramakr
1) Gejala
Serangan
-
Gejala
awal penyakit ini adalah adanya bercak klorotik kecil berbentuk oval pada daun;
-
Pada
keadaan serangan berat seluruh daun dapat terserang dan menjadi kering.
2) Pengendalian
-
Jarak
tanam tidak terlalu rapat agar kelembaban di sekitar tanaman tidak terlalu
tinggi
-
Sanitasi
kebun
-
Perbaikan
drainase
-
Penyemprotan
dengan fungisida segera setelah ditemukan adanya gejala sakit di kebun;
-
Eradikasi
tanaman / bagian tanaman yang sakit dan dimusnahkan.
-
Pengendalian
dapat menggunakan Dithane M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%)
e. Penyakit
Akar Nematoda
1) Gejala
Serangan
-
Tanaman
terserang cenderung lebih cepat tua dibandingkan yang sehat;
-
Serangan
lebih berat dapat mengakibatkan akar dan rimpang menjadi busuk, bila rimpang
terserang dipotong melintang tampak luka-luka berwarna coklat pada batas antara
bagian rimpang sakit dengan yang masih sehat.
2) Pengendalian
-
Dipilih
lahan yang belum pernah ditanami jahe dan belum pernah dilaporkan terinfeksi
berat oleh nematoda;
-
untuk
lahan yang sudah pernah terinfeksi nematoda maka diperlakukan secara kimia
sekurang-kurangnya 2 – 3 minggu sebelum tanam;
-
Sanitasi
kebun dengan baik;
-
Rotasi
tanaman dan pemilihan waktu tanam secara benar;
-
Penggunaan
benih bebas nematoda;
-
Pemanfaatan
bakteri Pasteuria penetrans dengan
dosis 2 kapsul/tanaman/6 bulan untuk mengendalikan Meloidogyne spp., dan Radopholus similis;
-
Pestisida
nabati tepung biji mimba 25 – 50 gr/tanaman/3 bulan (untuk daerah yang ada
tanaman mimba)
-
Pemberian
insektisida
6.9. Panen
a. Definisi
dan Tujuan
Panen adalah kegiatan pengambilan
hasil berupa rimpang dengan cara membongkar seluruh ripang menggunakan garpu
dan atau cangkul.
b. Informasi
Pokok / Prosedur Kerja
1.
Panen
untuk konsumsi dilakukan pada saat rimpang berumur 6 – 10 bulan, sedangkan
panen untuk bibit dilakukan pada saat rimpang berumur 8 bulan.
2.
Ciri-ciri
rimpang siap panen :
Ø
Warna
daun berubah dari hijau menjadi kuning dan batang semua mengering
Ø
Kulit
rimpang kencang dan tidak mudah terkelupas / tidak mudah lecet
Ø
Apabila
dipatahkan berserat dan aroma rimpang menyengat;
Ø
Warna
rimpang lebih mengkilat dan terlihat bernas;
3.
Untuk
jahe gajah lakukan pemanenan pada saat tanaman berumur 6 – 10 bulan
4.
Untuk
jahe emprit dan jahe merah dilakukan pemanenan setelah semua daun gugur;
5.
Lakukan
pemanenan dengan hati-hati menggunakan garpu/ cangkul, tidak dengan cara
dicabut dan diusahakan jangan sampai rimpang jahe terluka;
6.
Bersihkan
rumpun rimpang jahe dari akar, tanah dan batang-batang tanamannya.
6.10. Pasca
Panen
a. Definisi
dan Tujuan
Pasca
panen adalah tindakan yang dilakukan setelah panen, mulai dari membersihkan
hasil panen dari ktoran, tanah dan mikroorganisme yang tidak diinginkan melalui
pencucian, sortasi, perajangan, pengeringan, pengemasan sampai dengan
penyimpanan. Tujuannya adalah untuk menghasilkan produk yang tahan simpan,
berkualitas dengan mempertahan kandungan bahan aktif yang memenuhi standar mutu
secara konsisten.
c. Informasi
Pokok / Prosedur Kerja
Pasca panen dilakukan untuk
menghasilkan produk segar dan simplisia. Tahapan pembuatan simplisia meliputi :
a.
Penyiapan
bahan baku;
Bahan baku dalam simplisia jahe adalah
rimpang jahe segar dari hasil panen yang besar dan cukup umur ( 8 – 10 bulan)
masih dalam keadaan segar, tidak busuk dan tidak rusak/ cacat
b.
Penyiapan
peralatan dan bahan kemasan
-
Wadah
/ bak / ember;
-
Sikat
plastik
-
Keranjang
plastik
-
Pisau
tidak berkarat
-
Alas perajang
-
Alat
pengeringan; tampi, solar dryer (sinar matahari)
-
Para-para
-
Bahan
rak yang direkomendasikan adalah alumunium / stainlesss steel
-
Timbangan
-
Kemasan
baru (karung, kantong plastik, tong, fiber drum)
-
label
c.
Pemrosesan
1.
Penyortiran
awal (basah)
Pemisahan rimpang jahe yang bagus
dengan rimpang jahe yang busuk/ rusak.
2.
Pencucian
Pencucian dilakukan dengan sikat
plastik pada air mengalir secara hati-hati untuk menghilangkan kotoran dari
hasil panen dan mengurangi mikroba yang menempel pada rimpang jahe.
3.
Penimbangan
bahan
Rimpang yang telah diseleksi dilakukan
penimbangan untuk mengetahui berat bersih bahan yang diolah
4.
Perajangan
Perajangan dilakukan secara manual/
mesin dengan arah rajangan membujur seragam dengan ketebalan 4 – 6 mm atau
sesuai dengan permintaan pasar. Perajangan dilakukan untuk mempercepat
pengeringan.
5.
Pengeringan
Pengeringan melalui proses penjemuran
matahari sampai kadar air 10 %. Tempat pengeringan diupayakan ditempat yang
tidak memungkinkan masuknya kotoran 20 – 30 cm di atas tanah. Pengeringan
adalah proses terpenting dalam pembuatan simplisia
6.
Penyortiran
akhir (simplisia)
Penyortiran akhir dilakukan berdasarkan
kualitasnya. Kemudian dilakukan penimbangan untuk mengetahui rendemen hasi pemrosesan.
d.
Pengemasan
dan pelabelan
Setelah simplisia mencapai derajat
kekeringan yang diinginkan, selanjutnya dapat segera dikemas untuk menghidari
penyerapan kembali uap air. Bahan Kemas/
kantong diupayakan bersih dan tertutup rapat dan diberi label nama jenis
simplisia. Kemasan simplisia kering diusahakan jangan ditumpuk-tumpuk mesti ada
sekat diantara tumpukan.
e.
Penyimpanan
Penyimpanan dilakukan di ruang /
gudang bersih dan sirkulasi udaranya baik dan tidak lembab, dan bebas dari hama
gudang. Jika penyimpanan baik dan benar, produk dapat disimpan hingga 10 bulan.






0 komentar:
Posting Komentar